Sabtu, 23 November 2019

Penghambaan

Semoga bermanfaat sahabat dimanapun berada
at-Ta’abbud ( Penghambaan)
at-Ta’abbud atau penghambaan merupakan klimaks dari cinta.
‘abadahu al-Hubbu artinya ditundukkan oleh cinta. Thariqun mu’abbadun artinya jalan yang menurun. Demikian halnya keadaan orang yang ditundukkan dan diperhamba oleh cinta.
Keadaan ini tidak layak ditunjukkan kepada selain Allah SWT. Allah SWT tidak akan mengampuni orang yang menyekutukan-Nya dalam penyembahan, tetapi Allah akan mengampuni dosa selain itu bagi orang yang dikehendakinya. Mahabbah al-Ubudiyah, yaitu cinta yang disertai penghambaan merupakan tingkatan cinta yang paling tinggi. Dan ini merupakan hak Allah SWT., yaitu memurnikan ibadah hanya kepadanya
Dari Mu’adz, ia berkata, “Aku tengah berjalan bersama dengan Rasulullah SAW, beliau menyeruku, “Wahai Mu’adz,.” Aku pun menjawab, “ Ya wahai Rasulullah, semoga keberkahan menyertai engkau.” Kami bwerjalan kembali beberapa saat, lalu beliau berkata lagi, “Wahai Mu’adz!” Aku Menjawab, “Ya wahai Rasulullah, dan semoga keberkahan menyertai engkau.” Kemudian kami berjalan lagi beberapa saat, dan untuk ketiga kalinya beliau berkata, “Wahai Mu’adz”” Dan akupun menjawab dengan jawaban yang sama. Selanjutnya beliau bersabda, “ Apakah engkau tahu apa hak Allah atas hamban-Nya?” Aku menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Kemudian beliau bersabda, “ Hak-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukannya dengan apapun. Apakah engkau tahu apa hak hamba-Nya apabila ia telah melakukan hal itu? Allah tidak akan menyiksanya dengan api neraka.”
(H.R Bukhari dan Muslim)
Allah SWT. Telah menyebutkan Rasul-Nya pada kedudukan-kedudukan yang istimewa dan paling mulia. Seperti pada saat isra’ dan mi’raj, serta pada saat berdoa: Allah berfirman ketika muncul pertentangan, “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yan Kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu.” (Q.S. Al-Baqarah : 23)
Berkenan dengan isra’ dan mi’raj, Allah SWT, berfirman, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa…” (Q.S Al – Isra: 1)
Berkenan dengan do’a, Allah SWT. Berfirman, “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (Q.S. Al – Jin: 19)
Manakala para Rasul Ulul azmi saling menolak untuk memberikan syafaat pada hari kiamat, maka al-masih berkata kepada mereka (manusia), “Datangilah Nabi Muhammad, orang yang dosa – dosaya telah diampuni oleh Allah SWT, baik dosa yang lalu maupun yang akan terjadi.” Maka sesungguhnya beliau dapat mencapai kedudukan seperti itu dengan kesempurnaan penghambaanya kepada Allah SWT, dan dengan kesempurnaan ampunan Allah SWT. Baginya.
Sifat hamba yang paling mulia adalah sifat penghambaanya. Dan yang termasuk nama yang paling dicintai Allah SWT. adalah nama yang terkandung makna ubudiyah (Abdun). Dalam sebuah hadist disebutkan, “Nama yang paling dicintai Allah SWT, adalah Abdullah dan Abdurahman. Dan nama yang paling benar adalah Harist dan Hamman, sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.” (H.R. Abu Daud)
Disebutkan bahwa Harist dan Hammadun adalah nama yang paling benar adalah alasan bahwa setiap orang sudah seharusnya memiliki motivasi dan keinginan. Sehingga pada akhirnya dia akan memperoleh buah dari apa yang dilakukannya. Jadi, setiap orang seharusnya menjadi pencocok tanam (Harist) dan memiliki keinginan dan cita-cita (Hamman).
Adapun nama paling buruk adalah Harb dan Murrah, karena kedua nama tesebut memiliki konotasi makna negative dan menunjukkan tidak adanya penggunaan akal.
Disandur dari Buku Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqim
Karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar